KRISIS
PANGAN DI BIMA, NUSA TENGGARA BARAT
Setiap
manusia memiliki hal-hal pokok yang harus dipenuhi dalam menjalankan
kehidupannya, hal-hal pokok tersebut biasa juga disebut kebutuhan pokok atau
primer. Kebutuhan pokok manusia ada 3, yaitu pangan, sandang, dan papan.
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, jika tidak dipenuhi maka
dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup manusia tersebut. Yang akan penulis
bahas dalam tulisan kali ini adalah salah satu dari kebutuhan pokok tersebut
yaitu pangan. Pangan merupakan hal yang sangat pokok dalam kehidupan, setiap
hari orang membutuhkan makanan. Akibat yang terjadi jika manusia tidak makan
berhari-hari adalah tentu saja manusia tersebut bisa mati, sama seperti makhluk
hidup lainnya. Inilah mengapa, kita tidak boleh mengesampingkan permasalahan
pangan.
Di
Indonesia, salah satu masalah serius yang dihadapi hampir di seluruh daerah
adalah kemiskinan, yang tentunya bisa berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan
pangan masyarakat. Masalah ini sampai sekarang masih sulit untuk ditangani oleh
Indonesia. Di beberapa daerah di Indonesia khususnya bagian timur, contohnya di
Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, terjadi krisis pangan yang menimpa
warganya. Hal inilah yang membuat
penulis melihat kasus ini penting untuk dibahas karena kasus ini merupakan hal
yang sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia merupakan negara yang kaya akan
sumber daya alam tetapi mengapa masih ada sejumlah warganya yang merasakan
kelaparan, bahkan untuk mendapat sesuap nasi pun sangat sulit. Secara umum
dalam esai ini, penulis akan membahas tentang krisis pangan di Bima, Nusa
Tenggara Barat yang kemudian diharapkan agar sebagai manusia kita bisa peka dan
sadar terhadap masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat khususnya
disini adalah krisis pangan., yang secara tidak langsung artinya kita pun
berkontribusi dalam menangani masalah ini.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, baik itu sumber daya alam hayati maupun
non hayati. Sumber daya alam hayati contohnya, tumbuhan, produk pertanian dan
pertumbuhan, hewan, produk peternakan serta perikanan. Sedangkan sumber daya
alam hayati disini contohnya, air, angin, tanah, dan hasil tambang. Indonesia
pun dikenal sebagai negara agraris, yaitu negara yang sebagian besar
penduduknya mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam. Data
statistik pada tahun 2001 menunjukkan bahwa 45% penduduk Indonesia bekerja di
bidang agrikultur. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa negara ini memiliki
lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam, dimana sebagian
besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa. Tetapi yang menjadi masalah
mengherankan disini adalah mengapa masih sangat banyak daerah di Indonesia yang
mengalami krisis pangan, mengingat begitu melimpahnya sumber daya alam, banyaknya
penduduk yang berprofesi sebagai petani, serta luasnya lahan pertanian yang
ada. Menurut penulis, mengapa krisis pangan ini terjadi walaupun sumber daya
melimpah adalah pertama, karena tingginya pertumbuhan penduduk sehingga sumber
daya alam yang ada pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap warga.
Kedua, karena terjadinya pengalihan fungsi lahan dari lahan pertanian ke
industri atau pembangunan lain seperti mall dan supermarket misalnya, serta
banyaknya petani yang beralih profesi menjadi pekerja lain atau buruh industri
karena banyaknya industri baru yang dibangun.
Tetapi,
apakah hal ini pula lah yang menjadi penyebab dari krisis pangan yang terjadi
di Bima, Nusa Tenggara Barat? Pada tahun 2003, NTB dianugerahi penghargaan
nasional sebagai ‘Provinsi Swasembada Pangan’. Hal ini menunjukkan bahwa
produksi beras yang cukup, atau bahkan berlebih, hal ini bertolak belakang
dengan apa yang terjadi pada tahun 2014 ini di NTB, terjadi perubahan yang
signifikan. Pada tahun 2014 ini, sejumlah desa di Kecamatan Langgudu, Kabupaten
Bima, NTB sedang ditimpa krisis pangan, khususnya di 4 desa yaitu Desa Wadu
Ruka, Sarae Ruma, Pusu, dan Desa Karampi. Masing-masing desa itu memiliki 2
dusun dan semuanya terletak di seberang laut teluk Waworada. Krisis pangan yang terjadi di beberapa desa
ini dikatakan merupakan akibat dari kemarau berkepanjangan, yang terjadi
berbulan-bulan. Hal ini menyebabkan petani tidak bisa bertani akibat tidak
adanya sumber air yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian mereka. Nah, akibat
yang ditimbulkan dari ketidakmampuan petani untuk memproses padi mereka dan
mengairi lahan pertanian mereka, yaitu mereka pun harus mencari alternatif lain
yang dapat mengganti beras sebagai makanan pokok. Dan apa yang terjadi di Desa
Karampi, Kabupaten Bima? Di Desa Karampi, warganya terpaksa mengganti makanan
pokok mereka dari beras menjadi umbi-umbian yang disana disebut dengan umbian
lede (gadung) karena hanya inilah yang at least, available di dekat desa
mereka. Untuk mendapat umbi gadung ini pun tidak mudah. Warga harus berjalan
puluhan kilometer di gunung untuk medapatkannya, tanaman ini pun bukan
merupakan tanaman budidaya melainkan tanaman liar yang tumbuhnya pun di daerah
terjal. Setelah gadung diperoleh pun, warga tidak boleh mengonsumsinya secara
langsung karena umbian itu mengandung racun. Gadung tersebut harus diolah
melalui beberapa tahapan seperti dikupas kemudian diiris kecil-kecil hingga
menyerupai keripik, kemudian direndam dengan air laut higga 4 jam agar
kandungan racunnya hilang. See, how pathetic and ironic they are.
Kasus
ini tidak semata-mata terjadi akibat musim kemarau yang berkepanjangan, tetapi
juga terdapat peran masyarakat itu sendiri yang masih kurang siap untuk
menghadapi musim kemarau yang setiap tahunnya terjadi pada daerah ini. Maksudnya
di sini adalah musim kemarau memang tidak bisa kita hindari, tetapi penulis
yakin bahwa jika memang ada usaha dari berbagai pihak untuk menanggulangi
masalah ini, maka musim kemarau bukanlah merupakan masalah besar. Pemerintah
seharusnya disini bisa berperan banyak dalam menanggulangi masalah krisis
pangan yang terjadi. Misalnya, pemerintah dapat memberikan bantuan beras di
desa-desa yang mambutuhkan jika memang keadaan sudah sangat urgency ketika
warga desa tersebut sudah tidak memiliki beras, atau makanan pokok lainnya.
Kemudian yang menjadi solusi lebih baik lagi adalah jika pemerintah dapat
membantu warga desa ini dalam membangun sebuah sistem irigasi yang mampu
memberikan suplai air yang cukup walaupun pada musim kemarau. Hal ini lah yang
menurut penulis dapat efektif mengatasi masalah kekeringan saat musim kemarau.
Namun, kita tidak boleh hanya mengandalkan peran pemerintah saja. Peran,
partisipasi, serta inovasi dari warga sendiri itu juga sangat dibutuhkan dalam
hal ini. Misalnya, jika sulit untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk
membangun sistem irigasi, maka seharusnya warga desa tersebut memiliki
inisiatif untuk membuat sistem irigasi mereka sendiri atau setidaknya mereka
bisa membuat sebuah wadah penampungan air yang besar sebagai cadangan saat
musim kemarau, warga desa yang berprofesi sebagai petani juga bisa meningkatkan
produksi mereka sebelum kemarau sehingga stok beras bisa lebih banyak saat
kekeringan menimpa.
Berdasarkan
analisis masalah serta fakta dan data yang telah dipaparkan di atas, maka dapat
ditarik sebuah kesimpulan yaitu bahwa melimpahnya sumberdaya alam yang ada
ternyata tidak dapat menjamin bahwa daerah tersebut tidak akan tertimpa masalah
krisis pangan, sebab terdapat beberapa faktor yang bisa menimbulkan krisis
pangan ini yaitu tingginya tingkat pertumbuhan penduduk, adanya pengalihan
fungsi lahan dan profesi petani di lingkungan masyarakat, serta dalam kondisi
khusus krisis pangan dapat disebabkan oleh kekeringan pada musim kemarau yang
terjadi dalam kurun waktu cukup lama. Dalam menangani permasalahan ini,
dibutuhkan peran serta dari semua pihak, baik itu pemerintah ataupun warganya,
agar dapat saling mendukung dalam mengatasi masalah tersebut.
Komentar
Posting Komentar